Lentera Ilmu adalah blog yang di kelola oleh Firdaus, tamatan Pasca Sarjana IAIN STS Jambi.

Thursday, 17 November 2011

KONTRIBUSI ISLAM TERHADAP PEMIKIRAN AMERIKA

KONTRIBUSI ISLAM TERHADAP PEMIKIRAN AMERIKA

Oleh: Firdaus dan Mahdalena

A. Pendahuluan

Hubungan Islam dengan Amerika pada hari ini senantiasa identik dengan hubungan benturan ('alâqah ash-shirâ') dan permusuhan. Amerika senantiasa membangun dan menyebarkan opini negatif terhadap Islam dan pemeluknya. Menurut mereka, Islam merupakan ancaman terhadap peradaban umat manusia. Di sisi lain, Amerika sering kali membanggakan kemajuan peradaban mereka dan mengklaim bahwa hal itu merupakan warisan dari kemajuan peradaban Yunani-Romawi semata. Mereka mengingkari adanya pengaruh dan kontribusi Islam beserta peradabannya dalam membangkitkan Amerika modern, memantapkan puncak kemajuannya. Jadi, bagaimana sebenarnya sumbangan Islam terhadap kebangkitan peradaban Amerika? Insya Allah, tulisan berikut akan menjelaskannya.

B. Pembahasan

1. Sejarah Islam di Amerika

Islam di Amerika Sebelum Columbus Christopher Columbus menyebut Amerika sebagai 'The New World' ketika pertama kali menginjakkan kakinya di benua itu pada 21 Oktober 1492. Namun, bagi umat Islam di era keemasan, Amerika bukanlah sebuah 'Dunia Baru'. Sebab, 603 tahun sebelum penjelajah Spanyol itu menemukan benua itu, para penjelajah Muslim dari Afrika Barat telah membangun peradaban di Amerika.

Klaim sejarah Barat yang menyatakan Columbus sebagai penemu benua Amerika akhirnya terpatahkan. Sederet sejarawan menemukan fakta bahwa para penjelajah Muslim telah menginjakkan kaki dan menyebarkan Islam di benua itu lebih dari setengah milenium sebelum Columbus.

Secara historis umat Islam telah memberi kontribusi dalam ilmu pengetahuan, seni, serta kemanusiaan di benua Amerika. ''Tak perlu diragukan lagi, secara historis kaum Muslimin telah memberi pengaruh dalam evolusi masyarakat Amerika beberapa abad sebelum Christopher Columbus menemukannya,'' tutur Fareed H Numan dalam American Muslim History A Chronological Observation. Sejarah mencatat Muslim dari Afrika telah menjalin hubungan dengan penduduk asli benua Amerika, jauh sebelum Columbus tiba. Sejarawan Ivan Van Sertima dalam karyanya They Came Before Columbus membuktikan adanya kontak antara Muslim Afrika dengan orang Amerika asli. Dalam karyanya yang lain, African Presence in Early America, Van Sertima, menemukan fakta bahwa para pedagang Muslim dari Arab juga sangat aktif berniaga dengan masyarakat yang tinggal di Amerika. Van Sertima juga menuturkan, saat menginjakkan kaki di benua Amerika, Columbus pun mengungkapkan kekagumannya kepada orang Karibian yang sudah beragama Islam. "Columbus juga tahu bahwa Muslim dari pantai Barat Afrika telah tinggal lebih dulu di Karibia, Amerika Tengah, Selatan, dan Utara," papar Van Sertima. Umat Islam yang awalnya berdagang telah membangun komunitas di wilayah itu dengan menikahi penduduk asli. Menurut Van Sertima, Columbus pun mengaku melihat sebuah masjid saat berlayar melalui Gibara di Pantai Kuba. Selain itu, penjelajah berkebangsaan Spanyol itu juga telah menyaksikan bangunan masjid berdiri megah di Kuba, Meksiko, Texas, serta Nevada. Itulah bukti nyata bahwa Islam telah menyemai peradabannya di benua Amerika jauh sebelum Barat tiba. Fakta lainnya tentang kehadiran Islam di Amerika jauh sebelum Columbus datang juga diungkapkan Dr Barry Fell, seorang arkeolog dan ahli bahasa dari Universitas Harvard. Dalam karyanya berjudul Saga America, Fell menyebutkan bahwa umat Islam tak hanya tiba sebelum Columbus di Amerika. Namun, umat Islam juga telah membangun sebuah peradaban di benua itu. Fell juga menemukan fakta yang sangat mengejutkan. Menurut dia, bahasa yang digunakan orang Pima di Barat Daya dan bahasa Algonquina, perbendaharaan katanya banyak yang berasal dari bahasa Arab. Arkeolog itu juga menemukan tulisan tua Islami di beberapa tempat seperti di California. Di Kabupaten Inyo, negara bagian California, Fell juga menemukan tulisan tua lainnya yang berbunyi 'Yasus bin Maria' yang dalam bahasa Arab berarti "Yesus, anak Maria". "Ini bukan frase Kristen,'' cetus Fell. Faktanya, menurut dia, frase itu ditemukan dalam kitab suci Alquran. Tulisan tua itu, papar dia, usianya lebih tua beberapa abad dari Amerika Serikat. Arkeolog dan ahli bahasa itu juga menemukan teks, diagram, serta peta yang dipahat di batu yang digunakan untuk kepentingan sekolah. Temuan itu bertarikh antara tahun 700 hingga 800 M. Teks serta diagram itu berisi mata pelajaran matematika, sejarah, geografi, astronomi, dan navigasi laut. Bahasa pengajaran yang ditemukan itu menggunakan tulisan Arab Kufi dari Afrika Utara.

Sejarawan seni berkebangsaan Jerman, Alexander Von Wuthenau, juga menemukan bukti dan fakta keberadaan Islam di Amerika pada tahun 800 M hingga 900 M. Wuthenau menemukan ukiran kepala yang menggambarkan seperti bangsa Moor. Itu berarti, Islam telah bersemi di Amerika sekitar separuh milenium sebelum Columbus lahir.Dia juga menemukan ukiran serupa bertarik 900 M hingga 1500 M. Artifak yang ditemukan itu mirip foto orang tua yang biasa ditemui di Mesir. Youssef Mroueh dalam tulisannya Muslim in The Americas Before Columbus memaparkan penuturan Mahir Abdal-Razzaaq El, orang Amerika asli yang menganut agama Islam. Mahir berasal dari suku Cherokee yang dikenal sebagai Eagle Sun Walker. Mahir memaparkan, para penjelajah Muslim telah datang ke tahan kelahiran suku Cherokee hampir lebih dari 1.000 tahun lalu. Yang lebih penting lagi dari sekedar pengakuan itu, kehadiran Islam di Amerika, khususnya pada suku Cherokee adalah dengan ditemukannya perundang-undangan, risalah dan resolusi yang menunjukkan fakta bahwa umat Islam di benua itu begitu aktif. Salah satu fakta yang membuktikan bahwa suku asli Amerika menganut Islam dapat dilacak di Arsip Nasional atu Perpustakaan Kongres. Kesepakatan 1987 atau Treat of 1987 mencantumkan bahwa orang Amerika asli menganut sistem Islam dalam bidang perdagangan, kelautan, dan pemerintahan. Arsip negara bagian Carolina menerapkan perundang-undangan seperti yang diterapkan bangsa Moor. Menurut Youssef, pemimpin suku Cherokee pata tahun 1866 M adalah seorang pria bernama Ramadhan Bin Wati. Pakaian yang biasa dikenakan suku itu hingga tahun 1832 M adalah busana Muslim. ''Di Amerika Utara sekurangnya terdapat 565 nama suku, perkampungan, kota, dan pegunungan yang akar katanya berasal dari bahasa Arab,'' papar Youssef.

Fakta-fakta itu membuktikan bahwa Islam telah hadir di tanah Amerika, ketika kekhalifahan Islam menggenggam kejayaannya. Hingga kini, agama Islam kian berkembang pesat di Amerika - apalagi setelah peristiwa 11 September. Masyarakat Amerika kini semakin tertarik dan meyakini bahwa Islam adalah agama yang paling benar. Pengaruh Islam di Benua Amerika Sekali-kali cobalah Anda membuka peta Amerika. Telitilah nama tempat yang ada di Negeri Paman Sam itu. Sebagai umat Islam, pastilah Anda akan dibuat terkejut. Apa pasal? Ternyata begitu banyak nama tempat dan kota yang menggunakan kata-kata yang berakar dan berasal dari bahasa umat Islam, yakni bahasa Arab. Tak percaya? Cobalah wilayah Los Angeles. Di daerah itu ternyata terdapat nama-nama kawasan yang berasal dari pengaruh umat Islam. Sebut saja, ada kawasan bernama Alhambra. Bukankah Alhambra adalah nama istana yang dibangun peradaban Islam di Cordoba?

Selain itu juga ada nama teluk yang dinamai El Morro serta Alamitos. Tak cuma itu, ada pula nama tempat seperti; Andalusia, Attilla, Alla, Aladdin, Albany, Alcazar, Alameda, Alomar, Almansor, Almar, Alva, Amber, Azure, dan La Habra.

Setelah itu, mari kita bergeser ke bagian tengah Amerika. Mulai dari selatan hingga Illinois juga terdapat nama-nama kota yang bernuansa Islami seperti; Albany, Andalusia, Attalla, Lebanon, dan Tullahoma. Malah, di negara bagian Washington terdapat nama kota Salem. Pengaruh Islam lainnya pada penamaan tempat atau wilayah di Amerika juga sangat kental terasa pada penamaan Karibia (berasal dari bahasa Arab). Di kawasan Amerika Tengah, misalnya, terdapat nama wilayah Jamaika dan Kuba. Muncul pertanyaan, apakah nama Kuba itu berawal dan berakar dari kata Quba - masjid pertama yang dibangun Rasulullah adalah Masjid Quba. Negara Kuba beribu kota La Habana (Havana).

Di benua Amerika pun terdapat sederet nama pula yang berakar dari bahasa Peradaban Islam seperti pulau Grenada, Barbados, Bahama, serta Nassau. Di kawasan Amerika Selatan terdapat nama kota-kota Cordoba (di Argentina), Alcantara (di Brazil), Bahia (di Brazil dan Argentina). Ada pula nama pegunungan Absarooka yang terletak di pantai barat. Menurut Dr A Zahoor, nama negara bagian seperti Alabama berasal dari kata Allah bamya. Sedangkan Arkansas berasal dari kata Arkan-Sah. Sedangkan Tennesse dari kata Tanasuh. Selain itu, ada pula nama tempat di Amerika yang menggunakan nama-nama kota suci Islam, seperti Mecca di Indiana, Medina di Idaho, Medina di New York, Medina dan Hazen di North Dakota, Medina di Ohio, Medina di Tennessee, serta Medina di Texas. Begitulah peradaban Islam turut mewarnai di benua Amerika.

Ini Fakta Eksistensi Islam di Amerika Tahun 999 M: Sejarawan Muslim Abu Bakar Ibnu Umar Al-Guttiya mengisahkan pada masa kekuasaan Khalifah Muslm Spanyol bernama Hisham II (976 M -1009 M), seorang navigator Muslim bernama Ibnu Farrukh telah berlayar dari Kadesh pada bulan Februari 999 M menuju Atlantik. Dia berlabuh di Gando atau Kepulauan Canary Raya. Ibnu Farrukh mengunjungi Raja Guanariga. Sang penjelajah Muslim itu memberi nama dua pulau yakni Capraria dan Pluitana. Ibnu Farrukh kembali ke Spanyol pada Mei 999M.

Tahun 1178 M: Sebuah dokumen Cina yang bernama Dokumen Sung mencatat perjalanan pelaut Muslim ke sebuah wilayah bernama Mu-Lan-Pi (Amerika). Tahun 1310 M: Abu Bakari seorang raja Muslim dari Kerajaan Mali melakukan serangkaian perjalanan ke negara baru. Tahun 1312 M: Seorang Muslim dari Afrika (Mandiga) tiba di Teluk Meksiko untuk mengeksplorasi Amerika menggunakan Sungai Mississipi sebagai jalur utama perjalanannya. Tahun 1530 M: Budak dari Afrika tiba di Amerika. Selama masa perbudakan lebih dari 10 juta orang Afrika dijual ke Amerika. Kebanyakan budak itu berasal dari Fulas, Fula Jallon, Fula Toro, dan Massiona - kawasan Asia Barat. 30 persen dari jumlah budak dari Afrika itu beragama Islam. Tahun 1539 M: Estevanico of Azamor, seorang Muslim dari Maroko, mendarat di tanah Florida. Tak kurang dari dua negara bagian yakni Arizona dan New Mexico berutang pada Muslim dari Maroko ini. Tahun 1732 M: Ayyub bin Sulaiman Jallon, seorang budak Muslim di Maryland, dibebaskan oleh James Oglethorpe, pendiri Georgia. Tahun 1790 M: Bangsa Moor dari Spanyol dilaporkan sudah tinggal di South Carolina dan Florida.[1]

2. Kontribusi Islam Terhadap Pemikiran Amerika

Sebelum seseorang memahami kontribusi bangsa Arab terhadap dunia modern, ia harus mempertimbangkan dua hal, yaitu pengaruh langsung dan tidak langsung. Pengaruh langsung terjadi karena karya tulis berbahasa Arab sangat unik. Pengaruh tidak langsung terjadi karena penyebaran budaya Arab terhadap kebudayaan Hellenik memiliki pengaruh yang sangat kuat terhadap sistem pendidikan Amerika. Selain itu, ia juga memperhatikan jalan yang dilalui filsafat dalam mempengaruhi pendidikan, baik dari sisi muatan akademis, maupun dari aspek praktisnya. Sedangkan sisi praktisnya berupa kebijakan-kebijakan administrasi lembaga pendidikan.

Akhirnya, setelah melakukan pengamatan yang mendalam, kesimpulan yang paling mengagumkan adalah penemuan tentang “penganut neo-humanistik, para akademisi, kaum tradisionalis, dan kaum progreif, bahwa ternyata sebagaimana tampak dalam tujuan mereka, memiliki akar kebudayaan Yunani. Para Penduduk Amerika bisa berasumsi bahwa hampir seluruh sistem dan tujuan pendidikannya yang berkaitan dengan pemikiran-pemikiran Yunani sampai ke Eropa melalui perantaraan bangsa arab (umat islam).

Bangsa Arab telah berusaha meningkatkan ilmu pengetahuan yang mereka peroleh. Tidak seperti beberapa bangsa lainnya diabad pertengahan, mereka sangat tertarik pada ilmu pengetahuan dan menembangkan ilmu pengetahuan, sehingga generasi sesudahnya dapat menikmati hasilnya. Banyak kemampuan intelektual yang diperoleh secara langsung. Mereka menambahkan ilmu pengetahuan tentang matematika dari Hindustan, Euclid, memajukan trigonometri melampaui prinsip-prinsip dasar Ptolemy, dan memperkenalkan ilmu teoritik dan terapan kepada dunia barat dengan membawa sejumlah istilah-istilah pengetahuan. Diantaranya adalah aljabar (algebra), zenit (bilangan tak berhingga), alkohol (alcohol), limun (lemon). Diantara istilah bahasa Arab lain yang diserap kedalam perbendaharaan bahasa Inggris adalah alchemi (kimia), alkali (senyawa asam garam), almanac (kalender), artichocke (lalap-lalapan), bazaar (pasar murah), camphor (kapur barus), dan lain-lain.

Teori musik yang telah ditemukan sebelum bangsa Arab memasuki Spanyol. Alat musik yang biasa dipergunakan adalah lyre (alat musik semacam kecapi berbentuk huruf U), drum, kecapi, tamborin, dan cyimbals (seperti sepasang piring logam). Penjilidan buku yang menggungkan kulit dengan seni mosaik yang indah terdapat pada semua karya Islam, seperti pada buku-buku seni, musik, kedokteran, dan ilmu alam. Tanda tempo dan notasi ditemukan oleh al-Farabi.

Teori al-Kindi tentang kekuatan garis yang berkenaan dengan optic bersama dengan karya al-Hazen tentang pantulan dan pembiasan cahaya dengan mengilhami karya-karya disepanjang abad pertengahan pada bidang ini. Roger Bacon dan Robert Grosseteste memberikan penghargaan yang tinggi kepada al-Hazen. Astrologi dan astronomi merupakan dua bidang ilmu pengetahuan yang dicapai bangsa Arab dengan astrolabe yang berfungsi untuk mendeteksi pergerakan bintang dilangit. Secar tidak langsung, bangsa Arab sangat berpengaruh pada pemikiran Amerika. Kajian tentang tujuh macam seni liberal, yang sudah lama diberikan dilembaga-lembaga pendidikan di Amerika, datang dari Yunani melalui bangsa Arab.[2]

Sumbangan Islam terhadap barat yang kemudian juga di Amerika adalah metode eksperimen yang merupakan jembatan antara penjelasan teoretis yang hidup di alam rasional dengan pembuktian yang dilakukan secara empiris. Metode eksperimen dikembangkan oleh sarjana-sarjana muslim pada abad keemasan Islam, ketika ilmu dan pengetahuan lainnya mencapai titik kulminasi antara abad IX dan abad XII masehi. Semangat mencari kebenaran yang dimulai oleh pemikir-pemikir Yunani dan hampir padam dengan jatuhnya kekaisaran Romawi dihidupkan kembali dalam kebudayaan Islam.

Kemudian metode eksperimen ini diperkenalkan didunia barat oleh filsuf Roger Bacon ( 1214-1294) dan kemudian dimantapkan oleh Francis Bacon (1561-1626). Sebagai penulis ulung Francis Bacon berhasil meyakinkan masyarakat ilmuan untuk menerima metode eksperimen sebagai kegiatan ilmiah.singkatnya, secara konseptual metode eksperimen dikembangkan oleh sarjana muslim dan secara sosiologis di masyarakatkan oleh Francis Bacon.[3]

Zakariya ar Razi (865-925) contohnya adalah pemikir bebas terbesar (the greatest freethinker) dalam dunia Islam. Ia adalah salah satu dokter ternama segala jaman. Ia menulis 200 buku tentang macam subyek. Ia penulis encycoplaedia terbesar, al Hawi, proyek yang dikerjakannya selama 15 tahun. Ar Razi seorang empiris, yaitu orang yang tidak mengikuti prosedur standar secara dogmatis, malah sebaliknya secara teliti mencatat segala detail kemajuan pasiennya dan efek perawatan terhadap pasiennya. ia salah satu yang mula-mula menuliskan buku-buku tentang penyakit menular, seperti cacar air.[4]

Orang pandai berikutnya dari dunia Islam adalah Abu Ali Sina, atau dibarat dikenal sebagai Avicenna. Sumbangan utamanya adalah dibidang sains medis dengan buku terkenalnya al-Qanun, atau dikenal di barat dengan "Canon". Qanun fi al-Tibb adalah encyclopedia medisin terbesar. Buku ini men-survey keseluruhan pengetahuan medis yg tersedia dari sumber muslim atau sebelumnya. Pendekatan sistimatisnya, penyempurnaan formal dan nilai intrinsiknya, Qanun ini melebihi karya2 Hawi milik Razi, maliki-nya Ali Ibn Abbas dan bahkan karya-karya Galen dan tidak tersaingi selama 6 abad". Buku ini diajarkan sebagai buku referensi mahasiswa Kedokteran Universitas Bologna sampai abad ke 17 .

Pemikir paling terkenal yang datang dari dunia Islam adalah Omar Khayyam. Ia adalah orang Persia yang mahir dibidang matematika dan astronomi dan sajak-sajaknya diterjemahkan dalam berbagai bahasa. Khayyam adalah filsuf yang membenci agama, khususnya Islam.

Ibn Rushdie.

Ia ahli filsuf dan sains yang sangat penting yang di Barat dikenal dengan nama Averroes. Ia hidup dari tahun 1126-1198 di Andalusia dan Marrakesh. Pengaruhnya terhadap pemikiran Eropa sering dilupakan oleh baik orang Arabmaupun orang Europa. Namun di abad ke 13 dan 14, pengaruh Averroisme sekuat Marxisme di abad ke 19. Ibnu Rushdie berfungsi sebagai jembatan antara dunia Arab dan dunia Barat dengan upayanya mengomentari dan menginterpretasi ahli-ahli filsafat Yunani seperti Aristotle dan Plato dan membuat mereka dimengerti oleh rakyat Arab. Dalam banyak karyanya, ia juga mencoba menjembatani filsafat dengan agama.

Namun, setelah di-intervensi sejumlah ilmuwan ternama jamannya, 4 tahun kemudian iapun diampuni dan dipanggil kembali ke Maroko pada tahun 1198; namun ia meninggal pada akhir tahun itu. Selanjutnya kontribusi Islam terhadap Eropa yang selanjutnya memberikan kontribusinya ke Amerika adalah tentang pengobatan dengan musik. R Saoud dalam tulisannya bertajuk The Arab Contribution to the Music of the Western World menyebut al-Kindi sebagai psikolog Muslim pertama yang mempraktikkan terapi musik. Menurut Saoud, pada abad ke-9 M, al-Kindi sudah menemukan adanya nilai-nilai pengobatan pada musik.

''Dengan terapi musik, al-Kindi mencoba untuk menyembuhkan seorang anak yang mengalami quadriplegic atau lumpuh total,'' papar Saoud. Terapi musik juga dikembangkan ilmuwan Muslim lainnya yakni al-Farabi (872-950 M). Alpharabius – begitu peradaban Barat biasa menyebutnya – menjelaskan tentang terapi musik dalam risalah yang berjudul Meanings of Intellect. Amber Haque (2004) dalam tulisannya bertajuk Psychology from Islamic Perspective: Contributions of Early Muslim Scholars and Challenges to Contemporary Muslim Psychologists", Journal of Religion and Health mengungkapkan, dalam manuskripnya itu, al-Farabi telah membahas efek-efek musik terhadap jiwa.

Terapi musik berkembang semakin pesat di dunia Islam pada era Kekhalifahan Turki Usmani berkuasa. Prof Nil Sari, sejarawan kedokteran Islam dari Fakultas Kedokteran University Cerrahpasa Istanbul mengungkap perkembangan terapi musik di masa kejayaan Turki Usmani. Menurut Prof Nil Sari, gagasan dan pemikiran yang dicetuskan ilmuwan Muslim seperti al-Razi, al-Farabi dan Ibnu Sina tentang musik sebagai alat terapi dikembangkan para ilmuwan di zaman kejayaan Turki Usmani. ''Mereka antara lain; Gevrekzade (wafat 1801), Suuri (wafat 1693), Ali Ufki (1610-1675), Kantemiroglu (1673-1723) serta Hasim Bey (abad ke-19 M).

''Para ilmuwan Muslim di era kejayaan Ottoman itu telah melakukan studi mengenai musik sebagai alat untuk pengobatan,'' papar Prof Nil Sari. Menurut dia, para ilmuwan dari Turki Usmani itu sangat tertarik untuk mengembangkan efek musik pada pikiran dan badan manusia. Tak heran, jika Abbas Vesim (wafat 1759/60) dan Gevrekzade telah mengusulkan agar musik dimasukan dalam pendidikan kedokteran. Keduanya berpendapat, seorang dokter yang baik harus melalui latihan musik. Usulan Vesim dan Gevrekzade itu diterapkan di universitas-universitas hingga akhir abad pertengahan. Sekolah kedokteran pada saat itu mengajarkan musik serta aritmatika, geometri serta astronomi kepada para mahasiswanya.

Seni musik yang berkembang begitu pesat di era keemasan Islam, tak hanya sekedar mengandung unsur hiburan. Para musisi Islam legendaris seperti Abu Yusuf Yaqub ibnu Is?aq al-Kindi (801–873 M) dan al-Farabi (872–950 M) telah menjadikan musik sebagai alat pengobatan atau terapi. Malah, masyarakat Amerika Serikat (AS) baru mengenal terapi musik sekitar 1944. Pada saat itu, Michigan State University membuka program sarjana teapi musik. Sejak 1998, di Amerika telah berdiri The American Music Therapy Association (AMTA). Organisasi ini merupakan gabungan dari National Association for Music Therapy (NAMT, berdiri tahun 1950) dan the American Association for Music Therapy (AAMT, berdiri 1971). Terapi musik merupakan salah satu kontribusi peradaban Islam dalam dunia kesehatan dan kedokteran. Di era modern ini, musik tetap menjadi salah satu alat untuk menyembuhkan penyakit tertentu. Terapi musik menjadi salah satu bukti pencapaian para ilmuwan Muslim di era keemasan.[5]

Kontribusi selanjutnya adalah tentang badan wakaf. Badan wakaf dan banyak elemen dasarnya mengilhami institusi dana sosial, terutama dari segi kemandirian sebuah yayasan sehingga bisa bebas dari campr tangan pemerintah pusat dan gereja. Adanya hukum wakaf dalam Islam yang sangat membantu perkembangan sebuah madrasah, proyek-proyek, serta institusi-institusi kemanusiaan dan pendidikan banyak memberikan inspirasi pada yayasan dana sosial di Eropa, yang dengannya college-college di bangun bersama elemen-elemen lain yang berkaitan, seperti harapan-harapan pendirinya, kebebasan dan keterbatasanny dalam memilih, tujuan, dan motif bantuan yang diperbolehkan dan para ahli warisnya.[6]

C. Penutup

  1. Kesimpulan

Berdasarkan uraian di atas maka dapat diambil kesimpulan bahwa benua Amerika ditemukan oleh orang-orang Islam, baru kemudian ditemukan oleh Colombus. Ini terbukti dengan banyaknya nama-nama kota di Amerika yang berasal dari bahasa Arab. Kemudian pada perkembangan selanjutnya orang-orang Eropa membawa pemikiran-pemikiran yang maju ke Amerika. Sedangkan orang-orang Eropa memperoleh pemikiran yang maju diantaranya metode eksperimen, matematika, pengobatan, pengobatan dengan musik dan lain-lain dari para ilmuan muslim. Berarti kemajuan Amerika adalah juga merupakan kontribusi dari Islam. Kontribusi selanjutnya adalah tentang badan wakaf. Badan wakaf dan banyak elemen dasarnya mengilhami institusi dana sosial, terutama dari segi kemandirian sebuah yayasan sehingga bisa bebas dari campr tangan pemerintah pusat dan gereja.

  1. Kata penutup

Tulisan ini masih terdapat banyak kekurangan terutama referensi-referensi yang pokok. Oleh karena itu sudah tentu tulisan ini masih jauh dari kesempurnaan. Kritik dan saran dari pembaca sangat diharapkan guna kesempurnaan tulisan ini selanjutnya. Akhirnya, hanya kepada hambalah penulis mohon diampuni dari segala salah dan khilaf.

DAFTAR PUSTAKA

Tedd D. Beavers, Paradigma Filsafat Pendidikan Islam: Kontribusi Filosof Muslim, Riora Cipta, Jakarta, 2001

Wan Mohd. Nor Wan Daud, Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam Syed M. Naquib Al-Attas, Terjemahan Hamid Fahmi dkk, Mizan, Jakarta, 2003

Republika Newsroom, Terapi Musik Dalam Peradaban Islam, Selasa 31 Maret 2009

http://www.indonesia.faithfreedom.org/f ... 079#302079

Jujun S. Suriasumantri, Filsaafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, 2001

http://saef-jaza.blogspot.com/2008/07/sejarah-islam-di-amerika.html



[1] http://saef-jaza.blogspot.com/2008/07/sejarah-islam-di-amerika.html

[2] Tedd D. Beavers, Paradigma Filsafat Pendidikan Islam: Kontribusi Filosof Muslim, Riora Cipta, Jakarta, 2001, h. 141-143

[3] Jujun S. Suriasumantri, Filsaafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, 2001, h. 113-115

[5] Republika Newsroom, Terapi Musik Dalam Peradaban Islam, Selasa 31 Maret 2009

[6]Wan Mohd. Nor Wan Daud, Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam Syed M. Naquib Al-Attas, Terjemahan Hamid Fahmi dkk, Mizan, Jakarta, 2003, h. 218

No comments:

Post a Comment