Lentera Ilmu adalah blog yang di kelola oleh Firdaus, tamatan Pasca Sarjana IAIN STS Jambi.

Thursday, 17 November 2011

NILAI-NILAI POSTIF SISTEM ASRAMA

NILAI-NILAI POSTIF SISTEM ASRAMA

A. Latar belakang

Menurut undang- undang sistem pendidikan nasional nomor 20 tahun 2003 pendidikan adalah :” usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan,akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.” [1] Berarti dapat difahami bahwa dalam prosesnya, pendidikan haruslah senantiasa dalam suasana yang mendukung tujuan dari pendidikan tersebut. Suasana yang mendukung tersebut diantaranya adalah dengan menerapkan sistem asrama. Karena dengan mengkondisikan siswa dalam asrama akan bisa mengarahkan dan mengontrol mereka dalam kesehariannya untuk dapat menerapkan semua yang mereka pelajari. Penerapan yang paling nyata diantaranya adalah akhlak yang baik, bahasa asing, kemandirian, dan kemandirian. Inipun dapat terlihat dari defenisi pendidikan menurut Ibnu Faris yang di kutip oleh Dr. Ali Abdul Halim Mahmud yaitu: “Pendidikan adalah perbaikan, perawatan, dan pengurusan terhadap pihak yang dididik dengan menggabungkan unsur- unsur pendidikan di dalam jiwanya, sehingga ia menjadi matang dan mencapai tingkat sempurna yang sesuai dengan kemampuannya. Adapun unsur- unsur tarbiyah ‘pendidikan’ tersbut adalah pendidikan ruhani, pendidikan akhlak, pendidikan akal, pendidikan jasmani, pendidikan agama, pendidikan sosial, pendidikan politik, ekonomi, pendidikan estetika, dan pendidikan jihad.” [2] Begitu pula hal ini dapat difahami dari defenisi pendidikan menurut Muhaimin dan Abd. Mujib: ”Pendidikan adalah proses transformasi dan internalisasi ilmu pengetahuan dan nilai-nilai pada diri anak didik melalui penumbuhan dan pengembangan potensi fitrahnya guna mencapai keselarasan dan kesempurnaan hidup dalam segala aspeknya.” [3]

Menurut Maksudin[4], penanaman nilai merupakan ruhnya penyelenggaraan pendidikan. Oleh karenanya pola-pola pendidikan hendaknya mengembangan dan menyadarkan siswa terhadap nilai kebenaran, kejujuran, kebajikan, kearifan dan kasih sayang sebagai nilai-nilai universal yang dimiliki semua agama. Pendidikan juga berfungsi untuk memperkuat keimanan dan ketakwaan secara spesifik sesaui keyakinan agama. Maka setiap pembelajaran yang dilakukan hendaknya selalu diintegrasikan dengan perihal nilai di atas, sehingga menghasilkan anak didik yang berkepribadian utuh, yang bisa mengintegrasikan keilmuan yang dikuasai dengan nilai-nilai yang diyakini untuk mengatasi berbagai permasalahn hidup dan sistem kehidupan manusia. Sementara pendidikan di Indonesia selama ini, disadari atau tidak, belum banyak menyentuh pemberdayaan dan pencerahan kesadaran dalam perspektif global, karena persoalan pembenahan pendidikan masih terpaku pada kurikulum nasional dan lokal yang belum pernah tuntas. Pendidikan dengan Sistem Boarding School (perpaduan/integrasi sistem pendidikan pesatren dan madrasah) sebenarnya afektif untuk mendidik kecerdasan, ketrampilan, pembangunan karakter dan penanaman nilai-nilai moral peserta didik, sehingga anak didik lebih memiliki kepribadian yang utuh dan khas.

Maka berdasarkan pernyataan diatas, penulis tertarik untuk menggali lebih dalam tentang nilai-nilai positif yang terkandung di dalam sistem asrama.

B. Pembahasan

Kelebihan-kelebihan lain dari sistem ini adalah : sistem boarding lebih menekankan pendidikan kemandirian. Berusaha menghindari dikotomi keilmuan (ilmu agama dan ilmu umum). Dengan pembelajaran yang mengintegrasikan ilmu agama dan ilmu umum diharapkan akan membentuk kepribadian yang utuh setiap siswanya. Pelayanan pendidikan dan bimbingan dengan sistem boarding school yang diupayakan selama 24 jam, akan diperoleh penjadwalan pembelajaran yang lebih leluasa dan menyeluruh, segala aktifitas siswa akan senantiasa terbimbing, kedekatan antara guru dengan siswa selalu terjaga, masalah kesiswaan akan selalu diketahui dan segera terselesaikan, prinsip keteladanan guru akan senantiasa diterarpkan karena murid mengetahui setiap aktifitas guru selama 24 jam. Pembinaan mental siswa secara khusus mudah dilaksanakan, ucapan, perilaku dan sikap siswa akan senantiasa terpantau, tradisi positif para siswa dapat terseleksi secara wajar, terciptanya nilai-nilai kebersamaan dalam komunitas siswa, komitmen komunitas siswa terhadap tradisi yang positif dapat tumbuh secara leluasa, para siswa dan guru-gurunya dapat saling berwasiat mengenai kesabaran, kebenaran, kasih sayang, dan penanaman nilai-nilai kejujuran, toleransi, tanggungjawab, kepatuhan dan kemandirian dapat terus-menerus diamati dan dipantau oleh para guru / pembimbing. Kemudian penerapan bahasa asing akan menjdi lebih efektif.

    1. kemandirian

Seorang pelajar yang rela berpisah dengan kedua orang tuanya demi menuntut ilmu, kemudian ia mengurus keperluan sehari-harinya sendiri sudah tentu akan menumbuhkan jiwa yang mandiri. Jiwa yang mandiri kan membentuk pola hidup yang mandiri. Dan memang salah satu tujuan dari pendidikan adalah membentuk jiwa yang mandiri.

Kalau kita amati, pola pembentukan kemandirian ini juga ada dalam sekolah yang tidak berasrama, yaitu dengan diadakannya kegiatan pramuka. Akan tetapi sudah tentu kemandiriannya berbeda dengan kemandirian hasil binaan di asrama. Karena para siswa disini betul-betul terpisah dari orang tua mereka.

    1. Menghindari dikotomi ilmu (agama dan umum)

Memang pada hakikatnya tidak ada dikotomi ilmu pengetahuan seperti diatas karena semuanya bersumber dari Allah SWT. Ilmu umum seperti yang dimaksud adalah berasal dari kegiatan memikirkan alam ini. Sedangkan Allah SWT memang memerintahkan memikirkan alam semesta ini yang tujuannya adalah menambah rasa Keagungan Allah SWT di dalam jiwa hamba-Nya. Hal ini dapat kita fahami dari firman Allah SWT dalam Surat Ali ’Imran ayat 190-191 berikut:

žcÎ) Îû È,ù=yz ÏNºuq»yJ¡¡9$# ÇÚöF{$#ur É#»n=ÏF÷z$#ur È@øŠ©9$# Í$pk¨]9$#ur ;M»tƒUy Í<'rT[{ É=»t6ø9F{$# ÇÊÒÉÈ

190. Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,

tûïÏ%©!$# tbrãä.õtƒ ©!$# $VJ»uŠÏ% #YŠqãèè%ur 4n?tãur öNÎgÎ/qãZã_ tbr㍤6xÿtGtƒur Îû È,ù=yz ÏNºuq»uK¡¡9$# ÇÚöF{$#ur $uZ­/u $tB |Mø)n=yz #x»yd WxÏÜ»t/ y7oY»ysö6ß $oYÉ)sù z>#xtã Í$¨Z9$# ÇÊÒÊÈ

191. (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan Ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, Maka peliharalah kami dari siksa neraka.

Maka, dalam kehidupan asrama yang terkontrol, proses integrasi ilmu pengetahuan yang bersifat abadi (perrenial knowlwedge) dan capaian (acquired knowledge) akan lebih cepat terinternalisasi kedalam guru siswa.

    1. Pengawasan langsung oleh pamong

Sistem asrama memungkinkan pendidik melakukan tuntunan dan pengawasan secara langsung kepada para siswa, yang memang hal ini sangat dimungkinkan karena guru dan siswa tinggal di dalam satu komunitas yang sama. Bahkan berdasarkan pengalaman penulis sewaktu menjadi santri[5], semua siswa dalam satu kelas akan tinggal di dalam satu asrama yang di dalamnya juga terdapat satu orang guru pamong/pembimbing. Pengawasan langsung ini menyebabkan prilaku siswa yang menyimpang dapat segera diketahui dan dapat dilakukan tindakan yang segera mencegahnya.

    1. Keakraban antara pamong dan siswa sangat kondusif bagi pemerolehan pengetahuan yang hidup.

Seperti halnya yang terjadi di pesantren, hubungan yang akrab akan terjadi antara kiyai dan para ustadz dengan para murid. Sehingga para santri akan dengan senang hati menerima segala palajaran yang diberikan oleh kiyai dan para ustaz. Karena keakraban menghilangkan prasangka negatif, sehingga semua penghalang dalam menerima pengetahuan akan hilang.

5. Pendidikan karakter building

penanaman nilai merupakan ruhnya penyelenggaraan pendidikan.Oleh karenanya pola-pola pendidikan hendaknya mengembangan dan menyadarkan siswa terhadap nilai kebenaran, kejujuran, kebajikan, kearifan dan kasih sayang sebagai nilai-nilai universal yang dimiliki semua agama. Pendidikan juga berfungsi untuk memperkuat keimanan dan ketakwaan secara spesifik sesaui keyakinan agama. Maka setiap pembelajaran yang dilakukan hendaknya selalu diintegrasikan dengan perihal nilai di atas, sehingga menghasilkan anak didik yang berkepribadian utuh, yang bisa mengintegrasikan keilmuan yang dikuasai dengan nilai-nilai yang diyakini untuk mengatasi berbagai permasalahn hidup dan sistem kehidupan manusia. Sementara pendidikan di Indonesia selama ini, disadari atau tidak, belum banyak menyentuh pemberdayaan dan pencerahan kesadaran dalam perspektif global, karena persoalan pembenahan pendidikan masih terpaku pada kurikulum nasional dan lokal yang belum pernah tuntas. Pendidikan dengan Sistem Boarding School (perpaduan/integrasi sistem pendidikan pesatren dan madrasah) sebenarnya afektif untuk mendidik kecerdasan, ketrampilan, pembangunan karakter dan penanaman nilai-nilai moral peserta didik, sehingga anak didik lebih memiliki kepribadian yang utuh dan khas.[6]

6. Melahirkan pimpinan masa depan

semangat religiusitas, boarding school menjanjikan pendidikan yang seimbang antara kebutuhan jasmani dan rohani, intelektual dan spiritual. Diharapkan akan lahir peserta didik yang tangguh secara keduniaan dengan ilmu dan teknologi, serta siap secara iman dan amal soleh.

Kondisi di atas memungkin siswa boarding school berkembang menjadi pribadi yang utuh (insan kamil) sebagai prasyarat untuk menjadi pemimpin. Pemimpin harus memiliki sifat-sifat yang baik seperti: creativity, morality, courage, knowledge, dan commitment. Calon pemimpin minimal harus memiliki kelima sifat-sifat positif tersebut, mengingat pemimpin bisa menjadi simbol moral dan pemersatu bagi komunitasnya, pemimpin harus bisa menjadi agent of development menuju kesejahteraan, kemakmuran. Seorang pemimpin harus mampu membawa komunitasnya melangkah jauh kedepan bukan hanya sekedar menjadi one step ahead tapi lebih leading to the farthest.[7]

7. Proses Modelling/ uswatun hasanah

Menurut Wakhudin yang dikutip oleh Imam Nur Suharno[8], Salah satu keistimewaan pendidikan pondok pesantren adalah sistem boarding school atau sistem asrama. Dengan sistem boarding school, santri sepanjang hari dan malam berada dalam lingkungan belajar. Mereka bergaul bersama siswa yang lain dan para ustaz mereka. Para guru/ustaz dapat memantau dan mengarahkan setiap perilaku santri sepanjang waktu. Di samping itu, dengan bergaul sepanjang waktu, memungkinkan bagi santri untuk mencontoh perilaku dan cara hidup ustaz. Sebab, mencontoh merupakan salah satu cara belajar yang paling efektif daripada sekadar belajar secara kognitif.

8. Pemakaian bahasa asing sebagai bahasa pengantar.

Asrama adalah lingkungan yang terdiri dari para penuntut ilmu, sehingga dari segi ini lingkungannya dikatakan homogen. Dengan lingkungan yang homogen dalam nuansa keilmuan ini maka sangat kondusif untuk menerapkan bahasa asing sebagai bahasa pengantar, yakni dengan menerapkan direct method (metode langsung) yang salah satu cirinya adalah sejak permulaan murid dilatih untuk “berfikir dalam bahasa asing”.[9]

Berkenaan dengan bahasa dan asrama ini ada kisah menarik dari Suprianto yang memebuka kursus bahasa Korea sistem boarding school atau asrama sebagai berikut:

Jakarta, BNP2TKI (3/7) Tingginya minat Calon Tenaga Kerja Indonesia (CTKI) asal Kota Brebes telah menjadikan inspirasi bagi Supriyanto, pensiunan bank pemerintah untuk membuka kursus Bahasa Korea di kota telor bebek asin itu.

Bersama kawannya mantan TKI Korea dan Taiwan, Supriyanto membulatkan tekadnya membentuk Lembaga Pendidikan Kerja Bintang Matahari Timur, yang mengkhususkan diri menyiapkan pelatihan bahasa Korea dengan sistem tinggal di asrama selama 2 bulan (boarding course).

“Ide kursus sistem pesantren ini merupakan cara cepat belajar bahasa Korea bagi Calon TKI asal Brebes,” ujar Supriyanto ditemui di Hotel Bidakarsa, Jakarta, Jum’at (3/7).

Menurut Supriyanto, hanya dengan biaya yang relatif murah, CTKI dijamin bisa berbahasa Korea dengan lancar. Biaya itu sudah termasuk beaya inap dan makan selama tinggal 2 bulan di asrama ,yang mampu menampung 40 CTKI lengkap dengan kamar tidur dan fasilitas belajar lainnya.

Dia menjelaskan, dasar pemikiran membuat pelatihan bahasa Korea ini dikarenakan masih tingginya minat bekerja ke luar negeri, termasuk Korea.

“Bekerja ke Korea masih menempati pilihan favorit bagi warga Brebes. Soalnya peluang kerja di kota Brebes sangat minim,” ungkap Supriyanto.

Selain sektor formal, pilihan bekerja sebagai Penata Laksana rumah tangga (PLRT) juga masih tinggi atau menempati sekitar 70 persen dari jumlah TKI asal Brebes.

Ia menceritakan, dari 15.000 orang sarjana yang mencoba ikut tes calon pegawai negeri sipil Brebes, hanya ratusan yang terpilih. Sisanya, menganggur.

Supriyanto berharap Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) bisa lebih aktif lagi mensosialisasikan tentang kesempatan kerja ke luar negeri, khususnya peluang di sektor formal.

“Saya berharap tenaga kerja terdidik yang tidak terserap di Brebes bisa mengambil kesempatan bekerja di luar negeri, termasuk ke Korea,” paparnya.

Dia menilai. khusus untuk warga Brebes yang mau kerja ke Korea, rata-rata mereka mengurusnya langsung ke BNP2TKI atau melalui situsnya di bnp2tki.go.id. Hanya sedikit sekali yang masih tertipu oleh calo atau sponsor.

“Peran Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) cabang Brebes mempunyai andil yang besar dalam menepis peran calo yang sebelumnya merajalela di desa-desa,” pungkas Supriyanto.[10]

C. Penutup

1. Kesimpulan

Nilai-nilai positif yang dapat diambil dalam sistem asrama adalah: kemandirian, Menghindari dikotomi ilmu (agama dan umum), Pengawasan langsung oleh pamong, Keakraban antara pamong dan siswa sangat kondusif bagi pemerolehan pengetahuan yang hidup, Melahirkan pimpinan masa depan, Proses Modelling/ uswatun hasanah, Pemakaian bahasa asing sebagai bahasa pengantar.

2. Kata penutup

Penulis berharap agar terjemahan ini dapat menambah wawasan kita semua yang membacanya. Kemudian, saran dan perbaikan sangat diharapkan guna kesempurnaan terjemahan ini selanjutnya.

DAFTAR PUSTAKA

Undang-Undang Sistem pendidikan Nasional Tahun 2003, Sinar Grafika: Jakarta, 2003.

Supriyanto, Supriyanto Buka Kursus Bahasa Korea Sistem Boarding School http://bnp2tki.go.id/content/view/1372/231/

Mulyanto Sumardi, Pengajaran Bahasa Asing: Sebuah Tinjauan Dari Segi Metodologi, Bulan Bintang, Jakarta, 1975.

ImamNurSuharno,PendidikanAlaPesantrenhttp://newspaper.pikiranrakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=87144

Sutrisno, Boarding School: Solusi Pendidikan untuk Melahirkan Pemimpin Masa Depan, http://sutris02.wordpress.com/2009/03/23/boarding-school-solusi-pendidikan-untuk-melahirkan-pemimpin-masa-depan/

Maksudin, Sistem Pendidikan Boarding School Efektif Untuk Pendidikan Karakter Building, http://www.uin-suka.ac.id/detail_kabar.php?id=117.

Mahmud, Ali Abdul Halim, Akhlak Mulia, (terj.), Gema Insani : Jakarta, 2004

Muhaimin dan Abd. Mujib, Pemikiran Pendidikan Islam, Bandung: Trigenda Karya, 1993

http://www.uin-suka.ac.id/detail_kabar.php?id=117

Mahmud, Arif, Pendidikan Islam Transformatif, LkiS, Yogyakarta, 2008

Hasibuan, Lias, Melejitkan Mutu Pendidikan: Refleksi, Relevansi, dan Rekonstruksi Kurikulum, SAPA Project, 2008

TUGAS AKHIR MATA KULIAH SEJARAH SOSIAL PENDIDIKAN ISLAM

NILAI-NILAI POSITIF SISTEM ASRAMA

OLEH :

NAMA : FIRDAUS

NIM : P.p. 1.208.0817

KELOMPOK : AR- ROZI TEBO

SEMESTER : III ( TIGA)

KONSENTRASI : KURIKULUM PENDIDIKAN ISLAM

DOSEN PEMBIMBING : DR.H. MARWAZI, M.Ag

PROGRAM PASCASARJANA

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN ISLAM

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI

SULTHAN THAHA SAIFUDDIN JAMBI

TAHUN 2009/2010



[1] Lihat Undang-Undang Sistem pendidikan Nasional Tahun 2003, Sinar Grafika: Jakarta, 2003, h.2.

[2] Mahmud, Ali Abdul Halim, Akhlak Mulia, (terj.), Gema Insani : Jakarta, 2004, h.23.

[3] Muhaimin dan Abd. Mujib, Pemikiran Pendidikan Islam, Bandung: Trigenda Karya, 1993

[5] Pengalaman ini penulis alami sewaktu penulis menjadi santri di pondok pesantren Darul Qur’an al-Islami di Kabupaten Batang Hari propinsi Jambi tahun 1993.

[6] Maksudin, Sistem Pendidikan Boarding School Efektif Untuk Pendidikan Karakter Building, http://www.uin-suka.ac.id/detail_kabar.php?id=117.

[9] Mulyanto Sumardi, Pengajaran Bahasa Asing: Sebuah Tinjauan Dari Segi Metodologi, Bulan Bintang, Jakarta, 1975, h. 33.

[10] Supriyanto, Supriyanto Buka Kursus Bahasa Korea Sistem Boarding School http://bnp2tki.go.id/content/view/1372/231/

No comments:

Post a Comment