Lentera Ilmu adalah blog yang di kelola oleh Firdaus, tamatan Pasca Sarjana IAIN STS Jambi.

Thursday, 17 November 2011

PENDIDIKAN EKONOMI ( Perspektif Kehidupan Nabi Muhammad SAW )

PENDIDIKAN EKONOMI

( Perspektif Kehidupan Nabi Muhammad SAW )

Oleh : Firdaus, M.Pd.I & Mahdalena, S.Pd.I *

A. Latar Belakang

Nabi Muhammad SAW adalah seorang utusan Allah SWT yang segala sisi kehidupannya terdapat ketedalanan. Mulai dari kehidupan masa kecilnya sampai beliau meninggal dunia . Keteladanan ini terabadikan di dalam al – Qur’an surah Al – Ahzab ( 33 ) ayat 21 yang artinya : “ sesungguhnya telah ada pada ( diri ) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu ( yaitu ) orang yang mengharap ( rahmat ) Allah dan ( kedatangan ) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah .” Salah satu keteladanan beliau adalah di bidang ekonomi.

Keteladanan dalam kehidupan Nabi Muhammad SAW adalah salah satu methode pendidikan beliau, bahkan merupakan inti dari seluruh metode pendidikan beliau, ( untung , 2005 : 164 ). Jadi pendidikan beliau adalah berasal dari tindakan atau pengalaman segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan Allah, baru kemudian di ucapkan dengan kata – kata yang sifatnya verbal. Dan salah satu keteladanan beliau adalah di bidang ekonomi. Sehingga hal ini bisa dikatakan sebagai pendidikan ekonomi dari beliau.

Pendidikan ekonomi yang beliau contohkan, tidaklah terlepas dari perintah dan larangan Allah. Dan sangatlah menghubungkan antara seseorang dengan Allah SWT kemudian dengan manusia lain , yang menjadi satu kesatuan yang utuh tidak boleh dipisah – pisahkan .Inilah ajaran islam yang di turunkan oleh Allah SWT untuk menuntun manusia bahagia dan sukses di dunia dan akhirat.

Untuk kebahagian dan kesuksesan tersebut , Allah Allah telah menyempurnakan ajaran – ajarannya dalam segala bidang kehidupan , termasuk bidang ekonomi . sebagaimana firman – Nya di dalam Al – Qur’an surah al – Maidah ayat 3 yang artinya : “ pada hari ini telah aku telah sempurnakan bagi kalian Nikmat –ku dan aku telah rido islam sebagai agama begi kalian . “

Akan tetapi, sekarang banyak sekali manusia yang menganggap bahwa Islam hanya mengatur tentang tata cara Sholat, Puasa Haji dan lain – lain yang sifatnya “seremonial”. Sehingga dalam berbagai bidang ekonomi , seolah – olah tidak ada tuntunan dan keteladanan yang mengandung pendidikan ekonomi ini telah berjalan di dalam kehidupan Rasulullah SAW semenjak kacil hingga beliau wafat.

Negara kita ini sekarang di timpa berbagai krisis, termasuk krisis ekonomi. Tentu di perlukan langkah - langkah untuk keluar dari krisis tersebut. Tulisan ini adalah sebagai sarana untuk mengingat kembali pendidikan ekonomi Nabi Muhammad SAW. Mudah – mudahan dapat di praktekkan untuk kondisi saat ini.

Mengingat kisah hidup dan keteladanan Nabi kita Muhammad SAW amatlah luas, maka tulisan kali ini hanya membatasi pada bidang ekonomi. Dalam bidang ekonomi inipun tidak secara keseluruhan , tapi hanya beberapa ringkasan Fase kehidupan beliau dan salah satu cara beliau menuntaskan permasalahan ekonomi sahabatnya, serta perdistribusian hartanya.

B. PEMBAHASAN

1. Sejarah Ringkas Ekonomi Nabi Muhammad SAW.

Nabi Muhammad SAW di asuh dan di susukan oleh Halimah As – Sa’diyah sampai di sapih berumur dua tahun. Dan ia dirawat hingga ia berumur empat atau lima tahun selama rentang antara umur dua tahun hingga empat tahun Nabi Muhammad SAW sudah dapat mengembala Kambing bersama anak Halimah. ( Chalil, 2001: 71 ). Ini menandakan contoh bahwa sejak kecil Nabi Muhammad SAW sudah terdidik mandiri dan bekerjakan keras.

Ketika beliau berusia kurang lebih empat tahun yaitu waktu berada di bawah asuhan Halimah di dusunnya , dengan kehendak sendiri telah ikut mengembala kambing milik ibu susuannya Halimah bersama – sama dengan anak Halimah sendiri sepulang beliau pun mengembala kambing lagi. Adapun kambing – kambing yang digembalanya , bukannya kambing sendiri, bukan kambing dari peninggalan ayahnya dan bukan pula kambing milik ibu dan kakeknya , melainkan milik penduduk mekah.

Selanjutnya , setelah beliau ditinggal wafat oleh ibunya meskipun waktu itu dalam pemeliharaan kakeknya sementara kakeknya itu seorang ketua dan yang memegang kekuasaan di mekah , beliau tidak merasa malu untuk bekeja menggembala kambing atau lebih tegas buruh menggembala kambing milik orang Mekah dengan menerima upah yang tidak seberapa banyaknya.

Riwayat pekerjaan beliau sebagai penggembala kambing milik orang mekah itu, oleh beliau sendiri pernah di nyatakan dengan sabdanya kepada sebagian sahabat ketika beliau telah menjadi Nabi dan Rasul Allah, diriwayatkan oleh Bukhari dan Ibnu majah, yang artinya : “ Allah tidak mengutus seorang nabi melainkan dia pernah menggembala kambing. “ Para sahabat bertanya , “ Dan engkau, ya Rasulullah. “ Beliau bersabda ,” dan , aku sudah pernah juga menggembala kambing milik orang mekah dengan menerima upah yang tidak seberapa banyaknya.”

Selanjutnya setelah berusia dua belas tahun, beliau ikut pamannya, Abu Thalib, untuk berniaga ke negeri Syam, tetapi karena ada hal – hal yang sangat mencemaskan pamannya, pamannya tidak lagi berangkat ke negeri syam untuk berniaga.

Nabi Muhammad SAW telah terkenal di kota mekah dan sekitar nya sebagai pemuda yang berbudi luhur, berperangai mulai, dan segala perbuatannya senantiasa berbeda dengan kebiasaan orang lain, terutama para pemuda. Karna kelakuan dan perbuatan beliau tidak pernah mengecewakan orang lain, terutama dalam kejujuran, beliau digelari al-amin yang artinya’ orang yang dapat dipercaya atau jujur.

Kemudian pada umur lima belas tahun nabi Muhammad SAW pergi ke syam untuk yang kedua kalinya dalam rangka berdagang barang dengan milik Sayyidah khadijjah (Abdul Jabbar :10). Kepercayaan khadijjah ini berdasarkan berita bahwa di kota mekah ada seorang pemuda yang berbudi luhur, berperangai mulia itu, bertempat tinggal di kampong Bani hasyim, dan namanya Muhammad al-amin. Jadi akhlak yang baik termasuk kejujuran adalah modal dalam berinteraksi dengan masyarakat. Hal ini yang menjadikan beliau seorang kredibel ( dipercaya ). Kredibelitas inilah yang membuat khadijjah mau dan yakin menitipkan barang barang dagangannya. Kredibilitas seseorang tercermin dari sampai sejauh mana orang tersebut mampu menjaga perjanjian ( agremen ) dalam tansaksi usaha. Adapun cara beliau menjual dagangannya tidaklah seperti kebanyakan ornag karna beliau tidak suka mengikuti cara cara yang telah buasa dilakukan oleh orang banyak. Cara beliau berdagang adalah berapa harga pokok dari khadijjah beliau disebutkan dengan sebenarnya kepada pembeli. Dan tentang keuntungan bagi beliau, itu terserah pada pembeli, oleh sebab itu, para saudagar di negri syam senang sekali membeli barang dagangan beliau karna mereka merasa tidak akan tertipu dalam perkara harga barang yang akan dibelinya. Berarti cara beliau ini mengandung unsur kejujuran dan kapasitas di dalam berdagang yang tidak mengkuti cara cara lama yang sudah mapan. Beliau menggunakan strategis pemasaran yang baru. Sehingga dalam waktu sebentar dagangan telah habis terjual, dengan mendapat keuntungan yang tidak sedikit juga berarti dalam waktu singkat dagangan cepat habis. Perputaran barang dagangan lebih singkat, atau efisiensi waktu.

2. Metode nabi Muhammad SAW menuntaskan kemiskinan

Ada laki laki dari kaum Ansor, di madinah Munau waraah yang datang kepada nabi SAW meminta sedekah, namun beliau pun menyaksikan ia pemuda yang kuat dan mampu bekerja, untuk itu beliau tidak memberinya sedekah sedikitpun sebagai mana ia pun tidak meminta kepada seseorang pun dari para sahabat, sedangkan dari diantara mereka ada yang mampu, kesemua mereka orang yang mulia dengan apa yang di dapatnya, dan sesungguhnya beliau mengarahkan pertanyaan hanya kepada orang yang meminta sedekah, beliau berkarta” Apa yang ada di rumahmu ?” itu adalah arahan pertama bagi pendidikannya dengan bentuk diri pribadi, dengan bersandar pada dirinya sendir. Maka laki laki out menjawab :” ya,, aku miliki alas ( kain kasar ) sebagiannya kami pakai dan sebagiannya kami hamparkan, dengan sebuah gelas besar kami meminum dan mempergunakannya.

Bahkan, pendidik yang mulia ini menjadikan segala apa yang dimiliki oleh orang ini sebagai modal denganya ia berangkat menuju pekerjaan bebas. Apa yang dilakukan rasullulah SAW merupakan petunjuk bagi orang yang meminta-minta dalam menangani kemiskinan sebagai isarat terhadap tanggung jawab sosial dan pimpinannya dalam menjaga kondisi-kondisi seluruh kelompok-kelompok masyarakat dengan pemeliharaan praktekkum dan pengarahan.

Kemudian rasulullah SAW berkata,”datangkanlah aku dengan keduanya (kain kasar dan gelas besar),”Rasulullah mengambil keduanya dengan tangan nya,dan mengambil sekelompok dari para sahabat (siapakah yang ingin membeli kesua barang ini ?) maka seorang laki-laki berkata :”saya membeli nya seharga sedirham ;” (dan rasullah mengetahui bahwa kedua barang itu berharga lebih dari sedirham )maka belliau mengulangi tawarannya untuk kedua kalinya, siapakah ingin membeli kedua barang ini? Aku mengambil nya dengan harga dua dirham, Maka laki-laki anshar itu mengambil nya dan rasulullah SAW sebagaii seorang pendidik dan pembimbing berkata kepadanya bagaimana menggunakan uang dua dirham ini dan biarkanlah untuk keluargamu, dan sisanya belilah kapak , datanglah kepadaku dengan membawanya. Dan laki – laki itu kembali lagi kepada Rasulullah dan mendapati beliau akan menyiapkan kayu agar ia meletakkannya dengan kedua tangannya pada kapak itu , beliau telah menyiapkan media bekerja untuknya . Akan tetapi semua itu belumlah cukup dengannya maka beliau memaksanya menjalani masa pelatihan pekerjaan . itu adalah perputaran Nabi untuk melatih seseorang dalam memperoleh pekerjaan , perputaran itu memiliki empat periode:

  1. Mempersiapkan sarana dan prasarana bekerja, yakni berupa kapak setelah menjamin kebutuhan keluarga di rumah.
  2. ( Pergilah dan kumpulkan kayu bakar ). Bidang pekerjaan, mengumpulkan kayu bakar, dan kepergian mengundang makna kemauan dan semangat.
  3. Dan ( Juallah ) untuk mengembangkan segala apa yang di kumpulkannya untuk perjualan dan pekerjaan.
  4. Masa pelatihan ( dan aku tidak akan pernah melihatmu selama 15 hari ), berangkat untuk bekerja dengan sungguh – sungguh selama 15 hari selam itu dia akan bekerja cara mengumpulkan kayu bakar, menjual dan membeli agar ia merasakan manisnya bekerja dan mulianya usaha sendiri.

Dalam hal ini Abu Hurairah RA. Meriwayatkan dari Rasul SAW, beliau

Bersabda, yang artinya : “ Hendaknya salah seorang dari kalian mengumpulkan kayu bakar dengan mengikatnya diatas punggungnya adalah lebih baik dari pada meminta – minta kepada seseorang dan ia ( mungkin ) akan memberinya atau menolaknya, “ ( Muttafaq Alaih ).

Berdasarkan pemecahan masalah ekonomi dari nabi di atas, maka dapat diambil beberapa pelajaran bagi bangsa Indonesia bahwa dalam memecahkan masalah ekonomi masyarakat haruslah diusahakan dengan kemandirian dari masyarakat itu sendiri, tapi tetap pemerintah punya peran. Dan diharapkan pemerintah dapat memberikan pelatihan Wirausaha, sebagaimana rasul mendidik peminta tersebut untuk menawarkan barangnya. Baru kemudian memberikan modal berupa pinjaman dan lain-lain. Setelah itu bagaimana mengelola keuangan, sebagaimana pelajaran dari Rasul SAW di atas yaitu dengan membagi satu bagian untuk memebeli kapak, dan satu bagian lagi untuk keluarga. Dan ini juga mengisyratkan tentang pengelolaan keuangan keluarga yang baik.

3. Distribusi kekayaan menurut Rasulullah SAW.

Telah di jelaskan sebelumnya, bahwa pendidikan dari Rasulillah SAW, khusus nya pendidikan ekonomi telah lebih dahulu dipraktekan oleh Rasulullah SAW Terutama masalah distribusi kekayaan sebagaimana keterangan sebelumnya bahwa Nabi Muhammad SAW bersama istrinya khadijah mengelola perdagangan dan mendapat keuntungan yang banyak akan tetapi oleh Rasulullah dan istrinya khodijah harta tersebut dipergunakan untuk menolong orang – orang yang membutuhkan .

Secara umum pendidikan untuk mendistribusikan kekayaan ini terdiri dari dua macam, yaitu:

a. Janji ( sebuah motivasi ) seperti:

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) Orang-orang yang menafkahkan hartanya dijalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir ada seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi maha mengetahui “(Al-Baqarah : 261)”

b. Ancaman ( Sebuah hukuman ) seperti:

“Dan sekali-kali Orang-orang yang kikir dengan apa yang diberikan Allah kepada mereka dari karunia-Nya, mengira bahwa, (kikir) itu baik bagi mereka, padahal (kikir) itu buruk bagi mereka, apa (harta) yang mereka kikirkan itu akan dikalungkan (dileherkannya) pada hari kiamat. Milik Allah warisan (apa yang ada) dilangit dan dibumi Allah maha teliti terhadap apa yang kamu kerjakan (Q.s. Ali Imran : 180).

C. Kesimpulan

1. Inti dari pendidikan ekonomi beliau adalah , kemndirian , tidak mau bergantung pada orang lain, suka bekerja keras , tidak malu bekerja apapun asalkan halal, jujur, kredibel ( amanah ) , kreatif, inovatif, menerapkan strategi pemasaran yang jitu dan peduli kepada sesama.

2. Penuntasan masalah kemiskinan yang diterapkan beliau bukanlah dengan memberikan uang atau harta , akan tetapi dengan menggali potensi dan modal pribadi orang tersebut, kemudian cara menjual ( pemasaran ) cara membagi hasil penjual, pembelian alat untuk bekerja ( alat produksi ) , batas waktu pelatihan berarti dengan pengarahan , pendidikan , dan pelatihan.

3. Distribusi harta kekayaan beliau, bukan untuk kepentingan beliau , istri dan keluarganya saja , tetapi untuk semua orang yang membutuhkan dan berada dalam jalur yang telah ditetapkan oleh Allah SWT.

4. Di sebalik pendidikan beliau termasuk ekonomi , Allahlah yang mendidiknya.

5. Sebuah pelajaran bagi bangsa Indonesia adalah bahwa pemecahanan masalah ekonomi berdasarkan rasul di atas dapat berupa modal dari pemerintah, kemudian diadakan pelatihan wirausaha dan pengelolaan keuangan keluarga.

Penulis adalah Dosen STIT Tebo & Guru Pendidikan Agama Islam di SMA N 3 Kab.Tebo, Alamat: Perumahan Permata Citra Blok A.02 RT.03 RW. 05 Bogorejo Kel. Tebing Tinggi, Kec. Tebo Tengah Kab. Tebo

Daftar Pustaka

Anonim, al – Qur’an dan terjemahannya , Bandung : PT. Syaamil Cipta Media , s2005 .

Al – Hasyim, Sayyid ahmad, Syarah Mukhtaarul ahaadits (terj.), Bandung : Sinar Baru Algen sindo, 2005 .cet. Pertama

Bashier, Zakaria. Mekah Dalam kemelut sejarah, Jakarta : PT. Pustaka Firdaus , 1994 . cet . Pertama.

Al – Hasyim , ‘ Abdul Hamid , Dr., Kisah Nabi Muhammad untuk Remaja, Jakarta : Robbani Press, 2002 . cet . kedua.

Syalabi , A. Prof. Dr., sejarah dan kebudayaan islam 1 , Jakarta : PT. Alhusna ZIkra, 1997. cet. Ke – IX.

Untung . Moh Slamet , Muhammad sang Pendidik , semarang : PT. Pustaka Rizki Putra , 2005. cet. Pertama.

Mahmud , Ali Abdul Halim , Dr., Akhlak Mulia , Jakarta : Gema Insani, 2004. cet. Pertama.

Susrofi , M., Kunci sukses berwira usaha, Jakarta : PT. Elex Media Komputindo 2003 . terbitan pertama.

Abdul Jabbar, umar, khulashah Nurul Yaqiin Fi shiirah sayyidil mursaliin, juz 1, Surabaya : Maktabah wa Mathba’ah saalim Nabhan, TT.

No comments:

Post a Comment