Lentera Ilmu adalah blog yang di kelola oleh Firdaus, tamatan Pasca Sarjana IAIN STS Jambi.

Thursday, 17 November 2011

PENDEKATAN ACUAN NORMA

PENDEKATAN ACUAN NORMA

A. Latar Belakang

Hasil evaluasi sangat banyak manfaatnya. Ini akan dirasakan terutama sekali oleh para guru dan para peneliti yang menyadari betul pentingnya peranan evaluasi dalam dunia pendidikan. Kecuali itu siswa yang terlibat langsung dalam kegiatan pembelajaran tentunya juga selalu menung-gu-nunggu bukti nyata dari hasil kerja keras mereka selama belajar pada jenjang pendidikan tertentu.Begitu pula dengan para orang tua siswa yang sudah mempercayakan pendidik-an anak-anak mereka kepada guru.

Oleh karena itu, jika seorang guru mampu melapor-kan hasil evaluasi belajar sesuai dengan kualitas riil para siswa, seyogyanya dia harus bersyukur karena sudah beker-ja sebagaimana layaknya seorang guru professional. Hasil evaluasi yang reliable yang dilaporkan guru kepada murid-muridnya melalui buku Rapor, merupakan bukti kongkret atas tanggung jawab profesionalnya. Hasil evaluasi yang seperti ini tentunya akan sangat berterima di hati murid dan para orang tua siswa. Inilah manfaat pertama dan utama dari hasil evaluasi itu, yakni sebagai laporan pertanggungjawab-an guru kepada siswa dan orang tua murid, juga kepada Kepala Sekolah.

Kecuali sebagai laporan pertanggungjawaban, hasil evaluasi juga sangat bermanfaat sebagai umpan balik, guna mandapatkan masukan tentang keberhasilan dan atau kega-gagalan program pembelajaran. Ini penting, demi perbaikan program pengajaran di masa yang akan datang. Jika hasil evaluasi mengungkap fakta bahwa sebagaian besar siswa ternyata gagal mengikuti program pembelajaran, maka guru wajib merancang program remedial.

Untuk kepentingan yang lebih luas, hasil evaluasi pun dapat dimanfaatkan sebagai sumber data bagi pene-litian-penelitian di bidang pendidikan. Kini waktunya guru untuk masuk pada tahapan ter-akhir dari proses pengolahan hasil ujian, yaitu tahap penen-tuan kedudukan siswa dalam kelompok. Pada tahap ini pe-kerjaan guru adalah membandingkan prestasi seorang siswa dengan prestasi siswa lain dalam kelompok/kelasnya. Harap diingat! Kualitas seorang siswa sangat dipengaruhi oleh kualitas kelompoknya. Azam dengan nilai 90-nya mungkin akan dianggap “Jago” oleh teman-teman-temannya, tetapi tidak tertutup kemungkinan dia hanya akan masuk kelompok “Sedang” manakala dia pindah ke kelas/kelompok lain.

Ada beberapa cara yang biasa digunakan orang da-lam menentukan kedudukan siswa dalam kelompok, di anta-ranya dengan (1) ranking sederhana/simple rank, (2) rangking persentase/percentile rank, (3) standar deviasi, dan dengan z-score. Sajian berikut hanya akan menyajikan cara penentuan kedudukan siswa dengan standar deviasi. Untuk ini biasanya para pakar evaluasi menggunakan PAP, PAN, dan gabungan PAP dengan PAN. Dan tulisan ini hanya membatasi pada pendekatan acuan norma (PAN).

B. Pembahasan

1. Pengertian

PAN ialah penilaian yang membandingkan hasil belajar mahasiswa terhadap hasil dalam kelompoknya. Pendekatan penilaian ini dapat dikatakan sebagai pendekatan “apa adanya” dalam arti, bahwa patokan pembanding semat–mata diambil dari kenyataan–kenyataan yang diperoleh pada saat pengukuran/penilaian itu berlangsung, yaitu hasil belajar siswa/mahasiswa yang diukur itu beserta pengolahannya, penilaian ataupun patokan yang terletak diluar hasil–hasil pengukuran kelompok manusia.

PAN (Norm Referenced Evaluation) dikenal pula dengan sebutan “Standar Relatif” atau norma kelompok. Pendekatan ini menafsirkan hasil tes yang diperoleh siswa dengan membanding-kannya dengan hasil tes siswa lain dalam kelompoknya. Alat pembanding itu ditentukan berdasarkan skor yang diperoleh siswa dalam satu kelompok. Ini berarti bahwa standar kelulusan baru dapat diten-tukan setelah diperoleh skor siswa. Hal inimengisyaratkan kepada kita bahwa standar yang dibuat untuk kelompok tertentu tidak dapat digunakan untuk kelompok lainnya. Begitu pula dengan standar yang digunakan untuk hasil tes sebelumnya tidak dapat digunakan untuk hasil tes sekarang atau yang akan datang. Jadi setiap kali kita memperoleh da-ta hasil tes, kita dituntut untuk membuat norma baru. Jika dibandingkan anatara norma yang satu dengan yang lainnya mungkin saja akan ditemukan standar yang sangat berbeda. Jika kelompok tertentu kebetulan sis-wanya pintar-pintar, maka norma/standar kelulusannya akan tinggi. Sebaliknya jika sis-wanya kurang pintar, maka standar kelulusannya pun akan rendah. Itulah sebabnya pendekatan ini disebut standar relatif.

PAN pada dasarnya mempergunakan kurve normal dan hasil–hasil perhitungannya sebagai dasar penilaiannya. Kurve ini dibentuk dengan mengikut sertakan semua angka hasil pengukuran yang diperoleh. Dua kenyataan yang ada didalam “kurve Normal”yang dipakai untuk membandingkan atau menafsirkan angka yang diperoleh masing – masing mahasiswa ialah angka rata- rata (mean) dan angka simpanan baku (standard deviation), patokan ini bersifat relatif dapat bergeser ke atas atau kebawah sesuai dengan besarnya dua kenyataan yang diperoleh didalam kurve itu. Dengan kata ain, patokan itu dapat berubah–ubah dari “kurve normal” yang satu ke “kurve normal” yang lain. Jika hasil ujian mahasiswa dalam satu kelompok pada umumnya lebih baik dan menghasilkan angka rata-rata yang lebih tinggi, maka patokan menjadi bergeser ke atas (dinaikkan). Sebaliknya jika hasil ujian kelompok itu pada umumnya merosot, patokannya bergeser kebawah (diturunkan). Dengan demikian, angka yang sama pada dua kurve yang berbeda akan mempunyai arti berbeda. Demikian juga, nilai yang sama dihasilkan melalui bangunan dua kurve yang berbeda akan mempunyai arti berbeda. Demikian juga, nilai yang sama dihasilkan melalui bangunan dua kurve yang berbeda akan mempunyai arti umum yang berbeda pula.

Pendekatan PAN dapat dipakai untuk semua mata pelajaran/matakuliah, dari mata pelajaran/matakuliah yang paling teoritis (penuh dengan materi kognitif) sampai ke matakuliah yang praktis (penuh dengan materi ketrampilan). Angka-angka hasil pengukuran yang menyatakan penguasaan kompetensi-kompetensi kognitif, ketrampilan, dan bahkan sikap yang dimiliki atau dicapai oleh sekelompok mahasiswa sebagai hasil dari suatu pengajaran, dapat di kurvekan. Dalam pelaksanaannya dapat ditempuh prosedur yang sederhana. Setelah pengajaran diselenggarakan, kelompok mahasiswa yang menerima pengajaran tersebut menjawab soal-soal atau melaksanakan tugas-tugas tertentu yang dimaksudkan sebagai ujian. Hasil ujian ini diperiksa dan angka tersebut disusun dalam bentuk kurve. Kurve dan segala hasil perhitungan yang menyertai (terutama angka rata-rata dan simpangan bakul) dapat segera dipakai dalam PAN.

2. Tujuan penggunaan

Penentuan nilai kahir peserta didik di Indonesia lebih sering menggunakan pendekatan acuan relatif/norma (PAN). Artinya nilai seseorang peserta didik ditentukan oleh kemampuan kelompoknya. Misalnya ; satu kelas terdiri 40 siswa, nilai hasil belajar si A di kelas itu didasarkan kemampuan kelompok itu. Misalnya si A mendapatkan skor tertinggi dalam pelajaran bahasa jawa yaitu dapat menjawab dengan tepat 60% dari semua kegiatan bahasa jawa selama semester tersebut. Siswa lainnya di bawah 60%, maka nilai rapor untuk bahasa jawa si A mendapatkan angka 10 (rentang 1-10).

Tujuan penggunaan tes acuan norma biasanya lebih umum dan komprehensif dan meliputi suatu bidang isi dan tugas belajar yang besar. Tes acuan norma dimaksudkan untuk mengetahui status peserta tes dalam hubungannya dengan performans kelompok peserta yang lain yang telah mengikuti tes. Tes acuan kriteria Perbedaan lain yang mendasar antara pendekatan acuan norma dan pendekatan acuan patokan adalah pada standar performan yang digunakan.

Pada pendekatan acuan norma standar performan yang digunakan bersifat relatif. Artinya tingkat performan seorang siswa ditetapkan berdasarkan pada posisi relatif dalam kelompoknya; Tinggi rendahnya performan seorang siswa sangat bergantung pada kondisi performan kelompoknya. Dengan kata lain standar pengukuran yang digunakan ialah norma kelompok. Salah satu keuntungan dari standar relatif ini adalah penempatan sekor (performan) siswa dilakukan tanpa memandang kesulitan suatu tes secara teliti. Kekurangan dari penggunaan standar relatif diantaranya adalah (1) dianggap tidak adil, karena bagi mereka yang berada di kelas yang memiliki sekor yang tinggi, harus berusaha mendapatkan sekor yang lebih tinggi untuk mendapatkan nilai A atau B. Situasi seperti ini menjadi baik bagi motivasi beberapa siswa. (2) standar relatif membuat terjadinya persaingan yang kurang sehat diantara para siswa, karena pada saat seorang atau sekelompok siswa mendapat nilai A akan mengurangi kesempatan pada yang lain untuk mendapatkannya.

Bila jumlah pesertanya ratusan, maka untuk memberi nilainya menggunakan statistik sederhana untuk menentukan besarnya skor rata-rata kelompok dan simpangan baku kelompok (mean dan standard deviation) sehingga akan terjadi penyebaran kemampuan menurut kurva normal.

PAN yang membandingkan prestasi siswa dengan kelompoknya, berkiblat pada MEAN dan Standar Deviasi (SD). MEAN amat bergantung pada frekuensi nilai tertinggi dan nilai terendah dalam kelompok. Standar Deviasi (SD) tergayut erat pada besaran MEAN, Frekuensi nilai tertinggi dan nilai terendah serta kepiawaian menerapkan prosedur perhitungan statistik. Karena itu skor mentah (gain score) 60 pada PPKN dan Matematika bisa sangat berbeda nilai akhirnya bilamana dikonversi ke stanten 1.0 – 10.0. Prosedur statistik ini masih amat merepotkan banyak guru yang lebih familier menghitung hasil ulangan secara manual. Pada hal PAN sangat efektif dan efisien bilamana guru melek teknologi computer (CMI).

Pendekatan PAN ini mendasarkan diri pada asumsi distribusi normal, walaupun kadar kenormalannya tidak selalu sama untuk tiap kelompok. Dengan demikian, walau tiap-tiap kelompok sama-sama menghasilkan kurva normal, mean kurva yang satu dengan kurva lainnya mungkin saja berbeda. Sebagai konsekuensinya, seorang siswa yang memperoleh nilai tinggi dalam suatu kelompok mungkin akan memperoleh nilai rendah jika ia dimasukkan ke dalam kelompok lainnya. Demikian pula sebaliknya.

3. Pedoman Konversi PAN

Konversi didasarkan pada Mean dan Standar Deviasi (SD) yang dihitung dari hasil tes yang diperoleh. Oleh karena itu untuk membuat standar penilaian atau pedoman konversi, terlebih dahulu kita harus menghitung Mean dan SD-nya. Jika dihubung-kan dengan skala penilaian, maka pedoman konversi untuk PAN dapat mempergunakan berbagai skala, misalnya skala lima, sembilan, sepuluh, dan seratus.

4. Penggunaan PAN

Berbeda dengan PAP, PAN tidak dapat digunakan untuk mengukur kadar pencapaian tujuan dan tingkat penguasaan bahan. PAN sering digunakan untuk fungsi prediktif, mera-malkan keberhasilan pendidikan siswa di masa mendatang atau untuk menentukan peringkat/kedudukan siswa dalam kelompok.

5. Keunggulan PAN

Ada beberapa keunggulan yang dimiliki PAN, diantaranya seperti tersaji di bawah ini:

1) Hasil PAN dapat membuat guru bersikap positif dalam memperlakukan siswa sebagai individu yang unik.

2). Hasil PAN akan merupakan informasi yang baik tentang kedudukan siswa dalam kelompoknya.

3). PAN dapat digunakan untuk menyeleksi calon siswa yang dites secara ketat.[1]

Demikian informasi singkat tentang PAP dan PAN sebagai pendekatan dalam penentuan kedudukan siswa dalam kelompok. Angka dan nilai yang diperoleh dengan cara hitungan diatas kemudian melalui Prosedur Penilaian Acuan Norma ( PAN), atau Penilaian Acuan Patokan (PAP) ditransfer ke nilai yang dinyatakan dengan huruf. Masing-masing mempunyai arti:

Nilai

Artinya

A

Sangat Baik

B

Baik

C

Cukup

D

Kurang

E

Gagal

T

Tidak Lengkap

K

Kosong

K = Sama sekali tidak mengikuti seluruh kegiatan tetapi terdaftar dalam KRS)[2]

Dari sederetan skor yang telah diubah ke standar 100 inilah maka dapat diperoleh gabungannya, misalnya gabungan antara nilai ulangan ke-1, ke-2, ke-3, dan seterusnya, yang merupakan catatan untuk dirata-rata dan menggambarkan penguasaan siswa terhadap materi yang diajarkan, atau menggambarkan sejauh mana siswa mencapai tujuan instruksional umum dari satu unit bahan yang dipelajari dalam satu ukuran waktu.

Dalam menggunakan norm referenced, prestasi belajar seorang siswa dibandingkan dengan siswa lain dalam kelompoknya. Seorang siswa yang apabila terjun ke kelompok A termasuk “hebat”, mungkin jika pindah ke kelompok lain hanya menduduki kualitas sedang saja. Ukurannya adalah relatif. Oleh sebab itu, maka dikatakan pula diukur dengan standar-relatif. Ukuran demikian juga disebut menggunakan norm- referenced atau norma kelompok.

Dasar pemikiran dari penggunaan standar ini adalah adanya asumsi bahwa di setiap populasi yang heterogen, tentu terdapat :

1. Kelompok baik,

2. Kelompok sedang,

3. kelompok kurang

dimulai dengan bakat yang dibawa sejak lahir yang dalam hal ini tampak sebagai indeks kecerdasan atau Intlligence Quotient (IQ), maka seluruh populasi tergambar sebagai sebuah kurva normal. Apabila anak-anak itu belajar, maka prestasi atau hasil belajar yang diakibatkan itupun akan tergambar sebagai kurva normal.

Kurva normal kurva notmal

Intelligence Quotient prestasi belajar








Penggunaan penilaian dengan norma kelompok atau norma relatif ini untuk pertama kali dikemukakan pada tahun 1908, dengan landasan dasar bahwa tingkat pencapaian belajar siswa akan tersebar menurut kurva normal. Dengan demikian maka penilaian berdasarkan kurva normal merupakan hal yang tidak dapat dibantah lagi.[3]

Pendekatan PAN ini mendasarkan diri pada asumsi distribusi normal, walaupun kadar kenormalannya tidak selalu sama untuk tiap kelompok. Dengan demikian, walau tiap-tiap kelompok sama-sama menghasilkan kurva normal, mean kurva yang satu dengan kurva lainnya mungkin saja berbeda. Sebagai konsekuensinya, seorang siswa yang memperoleh nilai tinggi dalam suatu kelompok mungkin akan memperoleh nilai rendah jika ia dimasukkan ke dalam kelompok lainnya. Demikian pula sebaliknya.

C. Penutup

1. Kesimpulan

PAN ialah penilaian yang membandingkan hasil belajar mahasiswa terhadap hasil dalam kelompoknya. Pendekatan penilaian ini dapat dikatakan sebagai pendekatan “apa adanya” dalam arti, bahwa patokan pembanding semat–mata diambil dari kenyataan–kenyataan yang diperoleh pada saat pengukuran/penilaian itu berlangsung, yaitu hasil belajar siswa/mahasiswa yang diukur itu beserta pengolahannya, penilaian ataupun patokan yang terletak diluar hasil–hasil pengukuran kelompok manusia.

PAN (Norm Referenced Evaluation) dikenal pula dengan sebutan “Standar Relatif” atau norma kelompok. Pendekatan ini menafsirkan hasil tes yang diperoleh siswa dengan membanding-kannya dengan hasil tes siswa lain dalam kelompoknya. Alat pembanding itu ditentukan berdasarkan skor yang diperoleh siswa dalam satu kelompok. Ini berarti bahwa standar kelulusan baru dapat diten-tukan setelah diperoleh skor siswa.

Tujuan penggunaan tes acuan norma biasanya lebih umum dan komprehensif dan meliputi suatu bidang isi dan tugas belajar yang besar. Tes acuan norma dimaksudkan untuk mengetahui status peserta tes dalam hubungannya dengan performans kelompok peserta yang lain yang telah mengikuti tes. Tes acuan kriteria Perbedaan lain yang mendasar antara pendekatan acuan norma dan pendekatan acuan patokan adalah pada standar performan yang digunakan.

Konversi didasarkan pada Mean dan Standar Deviasi (SD) yang dihitung dari hasil tes yang diperoleh. Oleh karena itu untuk membuat standar penilaian atau pedoman konversi, terlebih dahulu kita harus menghitung Mean dan SD-nya. Jika dihubung-kan dengan skala penilaian, maka pedoman konversi untuk PAN dapat mempergunakan berbagai skala, misalnya skala lima, sembilan, sepuluh, dan seratus.

Berbeda dengan PAP, PAN tidak dapat digunakan untuk mengukur kadar pencapaian tujuan dan tingkat penguasaan bahan. PAN sering digunakan untuk fungsi prediktif, mera-malkan keberhasilan pendidikan siswa di masa mendatang atau untuk menentukan peringkat/kedudukan siswa dalam kelompok.

Ada beberapa keunggulan yang dimiliki PAN, diantaranya seperti tersaji di bawah ini:

1) Hasil PAN dapat membuat guru bersikap positif dalam memperlakukan siswa sebagai individu yang unik.

2). Hasil PAN akan merupakan informasi yang baik tentang kedudukan siswa dalam kelompoknya.

3). PAN dapat digunakan untuk menyeleksi calon siswa yang dites secara ketat.

2. Kata penutup

Tulisan ini masih banyak terdapat kekurangan. Oleh karena itu saran dan kritik yang membangun dari para pembaca sangat penulis harapkan guna perbaikan makalah ini selanjutnya. Akhirnya, hanya kepada Allahlah penulis mohon ampunan.

DAFTAR PUSTAKA

Suharsimi Arikunto, Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan, Bumi Aksara, Jakarta, 1999

http://pbsindonesia.fkip-uninus.org/media.php?module=detailmateri&id=59

http://fisip.unsrat.ac.id/index.php?option=com_content&task=view&id=10&Itemid=13

MAKALAH MATA KULIAH EVALUASI KURIKULUM

PENDEKATAN ACUAN NORMA

( PAN )

OLEH :

NAMA : AHDIYENTI

KELOMPOK : AR- ROZI TEBO

SEMESTER : III ( TIGA )

DOSEN PEMBIMBING : Prof. Dr.H.LIAS HASIBUAN, MA

PROGRAM PASCASARJANA IAIN STS JAMBI

TAHUN AKADEMIK 2009-2010



[2] http://fisip.unsrat.ac.id/index.php?option=com_content&task=view&id=10&Itemid=13

[3] Suharsimi Arikunto, Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan, Bumi Aksara, Jakarta, 1999, h. 237-239

No comments:

Post a Comment